
- 2026-08-24 09:07:24
Bacaan : 2 Samuel 19:9-30
Dahulu, hati orang Israel telah dicuri oleh Absalom sehingga mereka mendukung Absalom untuk diurapi menjadi raja (2Sam. 15:6, 12). Kini, setelah Absalom mati, rakyat mulai gelisah dan ragu. Mereka mempertanyakan apakah dukungan mereka kepada Absalom selama ini tepat?
Mereka mengingat lagi bagaimana Daud melepaskan dan menyelamatkan mereka. Apakah mereka harus kembali mendukung Daud menjadi raja? Masalahnya, mereka terlanjur mendukung Absalom yang membuat sang raja melarikan diri (9-10). Apakah Daud akan marah dan menghukum mereka yang dianggap membelot?
Rupanya Daud memahami pikiran dan perasaan rakyatnya sehingga ia mengutus Zadok dan Abyatar untuk berpesan kepada tua-tua Yehuda yang merupakan perwakilan rakyat (11). Inti dari pesan itu adalah Daud tidak menyalahkan mereka yang tertipu oleh sikap Absalom. Ia tetap memandang mereka sebagai "saudara-saudaraku" dan "sedarah daging" (12).
Demikian juga dengan Amasa, mantan panglima perang Absalom. Daud menyebutnya "sedarah daging" dan meneguhkannya untuk kembali mengikutinya (13).
Perkataan Daud yang penuh kemurahan menggugah hati rakyat, sehingga mereka tidak ragu lagi untuk menerima kepulangan raja mereka (14). Bahkan, Simei yang pernah mengutukinya dan Mefiboset yang ternyata tetap setia kepadanya menyambut sang raja (15-30).
Belajar dari sikap Daud, kita diingatkan untuk lebih cepat mengampuni daripada menghakimi orang lain. Siapa saja bisa salah. Seperti rakyat yang terkecoh oleh Absalom, saudara-saudara seiman kita bisa terkecoh oleh tawaran dunia ini. Tugas kita adalah membawa mereka kembali kepada Tuhan, bukan menyalahkan dan menyudutkan, apalagi mengutuk mereka.
Doakanlah dan rangkullah mereka dengan kemurahan hati supaya mereka kembali kepada Tuhan. Seperti Tuhan yang mau menerima dan memulihkan kita, kiranya kita semua yang percaya kepada-Nya juga menerima dan memulihkan saudara seiman kita dengan kasih yang sama.
